Rabu, 25 Mei 2016

Lagi - Lagi Tentang Hujan

Hujan
Rintik hujan tak lagi terdengar
Mungkin sudah waktunya tanah ini mengering
Aroma hujan tak lagi tercium
Mungkin sudah waktunya aroma bunga semerbak menggantikan
Air hujan tak lagi terlihat
Mungkin sudah waktunya bumi berhenti menangis
Biarkan...
Biarkan hujan menjadi bukti bahwa dua sejoli pernah saling merindu
Biarkan hujan menjadi saksi abadi bahwa dua sejoli sering saling mendoakan
Biarkan hujan pergi membawa rasa bahwa dua sejoli masih saling mencinta
Biarkan hujan berganti kemarau.

Sabtu, 24 Januari 2015

Stuck with Them

Bicara tentang elevator, jadi teringat akan suatu cerita di Lift Jatos bersama Togeang Ko((minus Sabol, Umek(@humairafir) dan Nanai(@NailahNurJihan)).

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jadi waktu itu sekitaran pertengahan November 2014, pas hari ulang tahunnya Sabol.
Saya, Bena, Iqlim, Nunu dan Cika hari itu memaksakan diri menonton Mocking Jay yang jam tayangnya malam banget "Midnight".
Ya, awalnya kita pada nggak mau nonton malam, pasti bakal larut malam banget pulangnya (ternyata benar, kami pulang jam 23.00) Tapi berhubung besok weekend and we had free time together just that day. Terus hari itu kami ingin membuat surprise gitu buat ultahnya Sabol (biar nggak ketiduran lagi kek waktu ultahnya Bena-Nanai). Kami berniat akan mengucapkan hbd paling terakhir ke Sabol (dari niatnya aja udah jahat, astaghfirullah).
Ya sudahlah, Bismillah. We believe, Allah always with us.

Skip nonton filmnya. ---------------------------------------------....-----------------------------------------------

Jujur saja, saya kurang suka sama film yang terlalu banyak percakapan yang basa-basi. Jadi, saya sempat tertidur saat Mockingjay diputar. Sesekali saya terbangun, setiap Bena (@benahmr) bilang "Brill Brill bangun!!".
Ya, sebelum tidur saya sudah janjian dengan Bena untuk membangunkan saya saat adegan actionnya mulai. Beruntung banget Bena duduk disebelah saya.

Fyi, Bena suka banget sama film Mocking Jay. Waktu nonton bareng kita itu adalah kali kedua Bena menonton Mocking Jay. *keprok-keprok*
Di Seat sebelah, Iqlim (@iqlimasftr) dan Cika (@cikareziana) sudah tertidur pulas sepertinya dari awal film hingga film usai. Mungkin kita memang terlalu lelah dengan segala rutinitas, sehingga saat ada waktu tidur pasti selalu disempatkan untuk tidur. Bahkan di Bioskop sekalipun, saat film sedang diputar.....
....----.....----....----....----....----....----....----....----....----.....----....----....----....----....----....----....----....----

OK. Mocking Jay selesai sudah. Sudah waktunya kami beranjak dari empuknya seat XXI, mengelap iler dan on the way  kostan Sabol. Ternyata malam itu tidak lebih dari 20 orang, sepi sekali rasanya. Mirisnya, 14 orang lainnya berpasangan. Sedangkan kami hanya berlima dengan pasangan kami yang masih sibuk mengukir masa depannya.
#PLAK
#MELENCENGDARICERITA

Saat keluar area bioskop, lumayan gelap. Berbagai kios sudah tutup. Tidak jauh dari pintu keluar, ada lift. Cika dan Iqlim kebelet pipis, kebetulan disebelah lift ada toilet. Sisanya nunggu di Depan Lift bersama belasan penghuni terakhir XXI yang tadi nonton Mocking Jay. Beberapa menit kemudian, kebuka tuh lift. Sekitaran belasan orang yang tadinya bersama kita pun masuk kedalam lift dan kita tidak mungkin ikut masuk juga lalu meninggalkan kedua sahabat kita berduaan. Jadi kita persilakan mereka duluan turun.
Tak lama dari lift tertutup, Iqlim dan Cika pun keluar. Kita kembali berlima menunggu lift kembali terbuka. Sekitaran 5 menit (tapi rasanya lama banget, sampe terbesit di Pikiran untuk turun lewat tangga darurat aja), lift jatos terbuka. Kami pun masuk lift.

Entah karena ngantuk parah atau karena kelelahan kami sedikit lupa harus pencet tombol mana untuk sampai ke lantai dasar. Sementara 4 orang sahabat saya berpikir, saya malah memencet semua tombol. ((Langsung lift otomatis tertutup.))
"Brill kenapa dipencet semua tombolnya..wah ngelantur lu.."
"Emang kenapa?"
"Ya kalo tiba-tiba salah lantai terus lihat yang macam-macam, gimana?"

JRENG..JRENG...JRENGGG!!!

Seketika tingkat keparnoan kami pun muncul. Saya langsung ambil ancang-ancang, yang awalnya saya berada ditengah langsung merapat ke kanan dan membalikkan badan. Nunu (@nununoee) ikutan menutup mata, Iqlim pun sama dengan saya bahasa sundanya mah nyempot di tukang, saya sudah tidak ingat Cika ngapain saat itu. Tapi yang jelas, yang masih bertahan di daerah tombol lift hanya Bena (benahmr) (walau sebenarnya gue yakin dia juga pasti takut).
Awalnya dari kami sempat ada yang menjerit dan saya pun merasakan lift nggak turun-turun cukup lama.
Mungkin karna sudah tidak ada yang dapat diandalkan dari kami, maka Bena pun memberanikan diri untuk membuka mata dan mencet tombol lift, agar lift tertutup kembali. Setelah lift tertutup, kami semua membuka mata. Kemudian lift kembali berhenti cukup lama rasanya....kami hampir mengira liftnya macet...tetapi lift pun kembali terbuka namun bukan dilantai yang kami inginkan, melainkan di FC Jatos.
Ya Allah gelap banget...sepi pula....
Biasalah perempuan, suka parnoan jerit2 manis manja sendiri yang nggak jelas. Lalu Bena (lagi) segera mencet tombol tutup lift. Kemudian lift tertutup dan kami pun sampai di Lantai yang kami inginkan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah kejadian itu, hampir semua dari mereka trauma naik lift bareng saya. Hahaha.
Saya merasa amat bersalah karena itu (tapi bohong deng).
--------------------------------------------..................................-------------------------------------------------
Saya harap saya bisa terperangkap lagi bersama mereka, dimanapun itu, bahkan di Lift lagi sekalipun. Asalkan bersama mereka, pemanis masa-masa kuliah yang saya yakin tidak akan ada gantinya.
#SWAG

Selasa, 20 Januari 2015

Her Fisherman and His Fish

Selasa, 20 Januari 2015
Tepat Pukul 14.12 WIB


I wonder how it feels to meet him once, and we make conversation like this.

 "Aku bukanlah nelayan yang gemar mencari ikan, begitupun kamu bukanlah ikan yang mudah terjala oleh jaring nelayan. Lalu, bagaimana kita dapat saling menemukan? Apakah aku yang harus rajin mencari ikan, atau kamu yang harus mudah tertangkap nelayan?"
 Dia memulai percakapan perdana kami kali ini.

"Kamu tidak perlu mencari, untuk menemukan. Sebagaima aku yang tidak perlu menunggu untuk dijemput. Belajarlah menjadi nelayan yang baik dan bijaksana dalam menggunakan jaringnya. Jangan sampai menggunakan pukat harimau, itu dapat membunuh ikan lainnya, mungkin akupun akan ikut terbunuh tanpa kau sadari. Tak usah terburu-buru ingin segera mendapatkan ikan. Sebagaimana aku yang tidak akan terburu-buru meninggalkan lautan. Aku akan selalu menghindari jaring-jaring dari nelayan lain, karena aku yakin suatu saat nanti aku akan terjala oleh jaringmu. Dan kita akan sama-sama saling menemukan."
 Jawabku kepadanya melewati telepati perdana ini.

Teruntuk calon teman dunia-akherat...


Selasa, 20 Januari 2015
Tepat pukul 04.29 WIB

Hai kamu yang disana.
Yang sedang menungguku dengan ragu.
Yang sedang menjaga hati untukku.
Yang sedang memperbaiki diri untukku.
Yang sedang memanjatkan doa untukku.
Yang sedang sibuk mempersiapkan masa depanmu untuk kelak kau persembahkan kepadaku.
Yang sedang berharap cemas ingin segera dipertemukan denganku.
Yang sedang meragu harus mencari apa tetap menunggu.

Teruntuk calon teman dunia-akherat,
Tak usah kau mencariku, aku sudah ditakdirkan untukmu.
Siapapun dirimu, kamupun telah ditakdirkan untukku.
Segera kita akan segera dipertemukan,
In Sya Allah.

Sorry, I've already woke up.

Bandung, 20 Januari 2015.
Tepat pukul 04.20 WIB

Aku terbangun, setelah tidur selama hampir 7 tahun lamanya.
Aku masih terbangun, diantara terbitnya subuh dan tenggelamnya Isya.
Aku masih ingin terbangun, bukan untuk meratapi mengapa aku tertidur selama itu. Bukan pula menyesali mengapa aku bermimpi terlalu lama, hingga lupa kembali ke alam atas sadar.
Aku masih akan terus terbangun, berusaha mengenyahkan mimpi-mimpi kita, mimpi-mimpi indah bersamamu.
Aku masih akan selalu terus terbangun, karena aku sekarang yakin kamu hanya bagian dari mimpi yang takkan pernah jadi nyata.

Untuk kamu, aku dan mimpi-mimpi indah kita....Sorry, I've already woke up.