Sabtu, 24 Januari 2015

Stuck with Them

Bicara tentang elevator, jadi teringat akan suatu cerita di Lift Jatos bersama Togeang Ko((minus Sabol, Umek(@humairafir) dan Nanai(@NailahNurJihan)).

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jadi waktu itu sekitaran pertengahan November 2014, pas hari ulang tahunnya Sabol.
Saya, Bena, Iqlim, Nunu dan Cika hari itu memaksakan diri menonton Mocking Jay yang jam tayangnya malam banget "Midnight".
Ya, awalnya kita pada nggak mau nonton malam, pasti bakal larut malam banget pulangnya (ternyata benar, kami pulang jam 23.00) Tapi berhubung besok weekend and we had free time together just that day. Terus hari itu kami ingin membuat surprise gitu buat ultahnya Sabol (biar nggak ketiduran lagi kek waktu ultahnya Bena-Nanai). Kami berniat akan mengucapkan hbd paling terakhir ke Sabol (dari niatnya aja udah jahat, astaghfirullah).
Ya sudahlah, Bismillah. We believe, Allah always with us.

Skip nonton filmnya. ---------------------------------------------....-----------------------------------------------

Jujur saja, saya kurang suka sama film yang terlalu banyak percakapan yang basa-basi. Jadi, saya sempat tertidur saat Mockingjay diputar. Sesekali saya terbangun, setiap Bena (@benahmr) bilang "Brill Brill bangun!!".
Ya, sebelum tidur saya sudah janjian dengan Bena untuk membangunkan saya saat adegan actionnya mulai. Beruntung banget Bena duduk disebelah saya.

Fyi, Bena suka banget sama film Mocking Jay. Waktu nonton bareng kita itu adalah kali kedua Bena menonton Mocking Jay. *keprok-keprok*
Di Seat sebelah, Iqlim (@iqlimasftr) dan Cika (@cikareziana) sudah tertidur pulas sepertinya dari awal film hingga film usai. Mungkin kita memang terlalu lelah dengan segala rutinitas, sehingga saat ada waktu tidur pasti selalu disempatkan untuk tidur. Bahkan di Bioskop sekalipun, saat film sedang diputar.....
....----.....----....----....----....----....----....----....----....----.....----....----....----....----....----....----....----....----

OK. Mocking Jay selesai sudah. Sudah waktunya kami beranjak dari empuknya seat XXI, mengelap iler dan on the way  kostan Sabol. Ternyata malam itu tidak lebih dari 20 orang, sepi sekali rasanya. Mirisnya, 14 orang lainnya berpasangan. Sedangkan kami hanya berlima dengan pasangan kami yang masih sibuk mengukir masa depannya.
#PLAK
#MELENCENGDARICERITA

Saat keluar area bioskop, lumayan gelap. Berbagai kios sudah tutup. Tidak jauh dari pintu keluar, ada lift. Cika dan Iqlim kebelet pipis, kebetulan disebelah lift ada toilet. Sisanya nunggu di Depan Lift bersama belasan penghuni terakhir XXI yang tadi nonton Mocking Jay. Beberapa menit kemudian, kebuka tuh lift. Sekitaran belasan orang yang tadinya bersama kita pun masuk kedalam lift dan kita tidak mungkin ikut masuk juga lalu meninggalkan kedua sahabat kita berduaan. Jadi kita persilakan mereka duluan turun.
Tak lama dari lift tertutup, Iqlim dan Cika pun keluar. Kita kembali berlima menunggu lift kembali terbuka. Sekitaran 5 menit (tapi rasanya lama banget, sampe terbesit di Pikiran untuk turun lewat tangga darurat aja), lift jatos terbuka. Kami pun masuk lift.

Entah karena ngantuk parah atau karena kelelahan kami sedikit lupa harus pencet tombol mana untuk sampai ke lantai dasar. Sementara 4 orang sahabat saya berpikir, saya malah memencet semua tombol. ((Langsung lift otomatis tertutup.))
"Brill kenapa dipencet semua tombolnya..wah ngelantur lu.."
"Emang kenapa?"
"Ya kalo tiba-tiba salah lantai terus lihat yang macam-macam, gimana?"

JRENG..JRENG...JRENGGG!!!

Seketika tingkat keparnoan kami pun muncul. Saya langsung ambil ancang-ancang, yang awalnya saya berada ditengah langsung merapat ke kanan dan membalikkan badan. Nunu (@nununoee) ikutan menutup mata, Iqlim pun sama dengan saya bahasa sundanya mah nyempot di tukang, saya sudah tidak ingat Cika ngapain saat itu. Tapi yang jelas, yang masih bertahan di daerah tombol lift hanya Bena (benahmr) (walau sebenarnya gue yakin dia juga pasti takut).
Awalnya dari kami sempat ada yang menjerit dan saya pun merasakan lift nggak turun-turun cukup lama.
Mungkin karna sudah tidak ada yang dapat diandalkan dari kami, maka Bena pun memberanikan diri untuk membuka mata dan mencet tombol lift, agar lift tertutup kembali. Setelah lift tertutup, kami semua membuka mata. Kemudian lift kembali berhenti cukup lama rasanya....kami hampir mengira liftnya macet...tetapi lift pun kembali terbuka namun bukan dilantai yang kami inginkan, melainkan di FC Jatos.
Ya Allah gelap banget...sepi pula....
Biasalah perempuan, suka parnoan jerit2 manis manja sendiri yang nggak jelas. Lalu Bena (lagi) segera mencet tombol tutup lift. Kemudian lift tertutup dan kami pun sampai di Lantai yang kami inginkan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah kejadian itu, hampir semua dari mereka trauma naik lift bareng saya. Hahaha.
Saya merasa amat bersalah karena itu (tapi bohong deng).
--------------------------------------------..................................-------------------------------------------------
Saya harap saya bisa terperangkap lagi bersama mereka, dimanapun itu, bahkan di Lift lagi sekalipun. Asalkan bersama mereka, pemanis masa-masa kuliah yang saya yakin tidak akan ada gantinya.
#SWAG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar